Pendidikan Pertanian Direvitalisasi

Untuk Mendorong Generasi Muda Menekuni Agrobisnis

Pendidikan pertanian di tingkat menengah mulai direvitalisasi. Kebijakan ini ditempuh untuk meningkatkan minat anak-anak muda terjun dalam bidang agraris, termasuk agrobisnis yang kini mulai menurun.

Joko Sutrisno, Direktur Pembinaan Sekolah Menengah Kejuruan (SMK) Departemen Pendidikan Nasional, di Jakarta, Rabu (16/1), mengatakan, peminat SMK pertanian di Indonesia memang terlihat menurun. Kondisi ini tentu saja memprihatinkan karena ekonomi negara ini tetap membutuhkan pertanian, terutama untuk menopang ketahanan pangan.

Pertanian di mata anak-anak muda kelihatannya tidak modern dan identik dengan orang miskin, ujarnya
Berangkat dari image yang tidak baik terhadap pertanian di kalangan anak muda ini, lanjut Joko, SMK pertanian diarahkan untuk menjadi sekolah agrobisnis. Dengan pencitraan yang baru ini, minat ke SMK pertanian sudah kelihatan mulai tumbuh.

Jumlah SMK pertanian saat ini ada 210 sekolah. Sekolah-sekolah menengah pertanian yang dulunya di bawah Departemen Pertanian dan Departemen Kehutanan kini masuk dalam sekolah kejuruan yang diatur Departemen Pendidikan Nasional.

Untuk merangsang minat masyarakat masuk ke SMK pertanian, kata Joko, pemerintah mulai mengalokasikan beasiswa untuk anak-anak yang mengambil SMK jurusan pertanian. Selain itu, program kewirausahaan juga mulai diperkenalkan.

Kebutuhan besar

Revitalisasi pendidikan pertanian juga dilakukan di sekolah-sekolah yang bernaung di bawah Departemen Pertanian. Kebutuhan penyuluh pertanian yang cukup besar membuat Departemen Pertanian kembali memfokuskan pada keahlian penyuluhan di tingkat pendidikan menengah dan tinggi.

Ato Suprapto, Kepala Badan Pengembangan Sumber Daya Manusia Departemen Pertanian, mengatakan, sebelum ada program revitalisasi penyuluhan pertanian, memang ada beberapa Sekolah Pertanian Menengah Atas (SPMA) dan Sekolah Peternakan Menengah Atas (SNAKMA) di bawah Departemen Pertanian yang tutup, karena lulusannya tidak tertampung menjadi tenaga penyuluh pertanian dan tenaga teknis pertanian.

Tetapi, setelah diluncurkan program revitalisasi penyuluhan pertanian, peminatnya mulai tumbuh. Sebab, untuk kebutuhan petugas penyuluh, Departemen Pertanian merekrut lulusan dari sekolah ini, kata Ato.

Sejak tahun 2007, sebanyak 8.000 penyuluh pertanian akan direkrut dari lulusan sekolah penyuluh pertanian ini. Untuk siswa lulusan terbaik akan diberi modal senilai Rp 15 juta-Rp 75 juta. Ini untuk mendorong mereka mengembangkan usaha agrobisnis, ujar Ato Suprapto. (Kompas)

0 komentar: